Text
Tsalatsu Rosail fi 'Ilmi Mushtholah Al Hadits
Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada dia yang tidak ada nabi setelahnya, dan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti rajanya dan kepadanya.
Nah, inilah surat Imam Abu Dawud al-Sijistani kepada penduduk Mekkah yang menjelaskan keenam kitabnya. Saya sampaikan kepada para pembaca setelah saya selesai menyunting dan mengomentarinya. Surat ini, sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh kita, ulama terpelajar dan terkemuka, Profesor Muhammad Zahid al-Kawthari, semoga Allah SWT merahmatinya, dalam pengantarnya, yang pertama kali dicetak di Percetakan Al-Anwar di Kairo pada tahun 1369, merupakan sesuatu yang tak terelakkan bagi para peneliti di antara jajaran hadis-hadis kitab Abu Dawud.
Kedudukan dan posisi Sunan yang tinggi di antara kitab-kitab hadis pada umumnya dan dasar-dasar sunah pada khususnya sudah jelas. Ulama sunah, penghafal hadis terkemuka, Imam Abu Dawud al-Sijistani (semoga Allah merahmatinya), adalah salah satu ahli hukum agung dan salah satu sahabat Imam Ahmad yang paling terkemuka. Ia sering menghadiri majelis Imam dan bertanya kepadanya tentang pokok-pokok masalah, baik yang substantif maupun fundamental. Kitabnya adalah khalifah kitab-kitab sunah, yang paling komprehensif, dan paling bermanfaat. Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata, "Sunan Abu Dawud adalah hukum yang paling komprehensif," sebagaimana ia nyatakan dalam kitabnya, al-Talkhis al-Habirah, ketika membahas hadis yang biasa ia baca dalam dua rakaat setelahnya, yaitu witir, "Maha Sucikan Nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi," dan "Katakanlah, 'Hai orang-orang kafir.'"
| RF00751 | Perpustakaan Pusat (Lantai 2) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain