Text
Mursyidul A'izzah
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kepunyaan-Nyalah segala kesombongan di langit dan di bumi. Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang dengan-Nya Dia menganugerahkan kepadanya jubah kemuliaan dan menjadikannya merdeka dari segala bangsa. Aku bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan Allah, yang bersabda dalam apa yang diriwayatkan darinya: "Barangsiapa yang rela tunduk kepada kehinaan, maka ia bukanlah termasuk golongan kami. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya, keluarga, sahabat, dan semoga salam tercurah kepada mereka... Maka,
Telah kita ketahui bahwa Al-Qur'an adalah fondasi Islam dan sumber utamanya. Jika Al-Qur'an adalah kitab suci agama dan syariat, kitab keyakinan, ibadah dan urusan, serta kitab pelajaran dan khotbah, maka pada saat yang sama ia juga merupakan kitab akhlak. Al-Qur'an berbicara tentang sifat-sifat mulia dan terpuji secara ringkas dan jelas, sehingga menjadi pedoman bagi setiap orang beriman yang ingin dihiasi dengan kebajikan dan keindahan alam. Kitab Suci ini membahas prinsip-prinsip akhlak yang Allah SWT inginkan agar hamba-hamba-Nya dihiasi dengannya dan agar mereka merespons ruhnya. Oleh karena itu, pembicaraan Al-Qur'an tentang akhlak ditujukan pada tujuan yang luhur dan mulia, yaitu agar seorang Muslim beriman yang dihiasi dengan akhlak mulia akan layak menerima pencerahan spiritual dan karunia ilahi yang membuatnya memengaruhi jiwanya dengan tubuhnya, mengangkat dirinya di atas indranya, dan merespons pikirannya lebih dari sekadar Ia merespons emosinya dan meningkatkan keselarasan antara hati dan pikirannya. Ia berhati murni, bijaksana dalam berkata-kata, dan bijaksana dalam bertindak. Ia memiliki kekebalan yang membuatnya menolak rasa rendah diri.
Ketika Al-Qur'an menyajikan salah satu pendekatan etisnya, ia menyajikannya dalam model-model manusia yang dinamis dan penuh warna. Ia menyajikannya dengan mempertimbangkan dampak positif atau negatifnya. Ia menyajikannya dalam bentuk situasi historis, kisah yang penuh peristiwa, atau pertarungan antara kebenaran dan kepalsuan, dan sebagainya.
Melalui semua adegan ini, moral bergerak dalam cara yang realistis, dan bersamanya hati manusia tergerak, pikirannya tergerak, dan jiwanya dipenuhi dengan alasan untuk terpengaruh dan mampu.
Pendekatan ini, yang telah Allah SWT izinkan dalam Al-Qur'an-Nya, adalah pendekatan yang sama yang Dia inginkan bagi hamba-hamba-Nya. Dia ingin mereka mengamalkan pendekatan dan akhlak ini dalam realitas, dan mewujudkannya dalam sikap, tindakan, dan perilaku.
Jika etika hanya menjadi kajian teoritis yang diajarkan dan tidak diamalkan, maka hal ini merupakan bentuk kurangnya keikhlasan dalam pendidikan dan ketidaktahuan terhadap tujuan-tujuan Kitab Suci.
| RF00467 | Perpustakaan Pusat (Lantai 2) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain