Text
Al Muqni'
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada pembimbing umat, junjungan kita Muhammad, sang pembunuh, sebagaimana diriwayatkan oleh dua syekh dalam Shahih mereka dari hadis Muawiyah bin Abi Sufyan, semoga Allah meridhoi mereka berdua. Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Dia akan memberinya pemahaman tentang agama.
Dan setelah itu, Syekh Al-Islam Muwaffaq Al-Din Abdullah bin Qudamah, semoga Allah merahmatinya, mengabdi kepada madzhab Imam Ahmad bin Hanbal Al-Shaybani, semoga Allah meridhoinya, dengan serangkaian buku yang telah direvisi, disunting, dan sangat bermanfaat: Pertama, kitab (Al-Umda) untuk pemula, yang terdapat dalam jilid yang bagus, di mana beliau membatasi diri pada sumber-sumber madzhab yang terpercaya. Kedua, kitab (Al-Muqni’), di mana dalam banyak terbitannya beliau mencantumkan dua riwayat agar pembacanya terbiasa memilih riwayat. Ketiga, kitab (Al-Kafi), yang terdiri dari empat bagian, dan di dalamnya terdapat dalil-dalil yang memampukan pembaca untuk mengamalkannya. Keempat, kitab (Al-Mughni) yang terdiri dari sepuluh bagian.
Disebutkan doktrin-doktrin dan bukti-bukti, untuk membekali siswa dengan metode ijtihad.
Kitabnya (Al-Muqni’) merupakan kitab rata-rata dalam seri kitab suci ini, dan yang pertama kali menjelaskannya adalah keponakan sang penulis, Syekh Abdurrahman bin Abi Umar, yang wafat pada tahun 682. Dalam menyusunnya, beliau mengandalkan kitab Al-Mughni, dan mengambil dari kitab-kitab lain apa yang tidak beliau temukan di dalamnya, baik dari cabang, aspek, maupun riwayat, sambil mengatribusikan hadis-hadis yang tidak dijelaskan maknanya oleh pamannya. Beliau menyebut penjelasan ini dengan mazhab Al-Syafi'i dan kemudian dikenal sebagai (Al-Syarh Al-Kabir).
Kemudian dijelaskan setelah itu oleh Syamsuddin Muhammad bin Abi al-Fath al-Ali yang wafat pada tahun 709 M, dan ia menyebutnya (al-Mutala’ ala Abwab al-Muqni’).
Di antara mereka yang menjelaskannya adalah orang sezaman Al-Ba’li, yaitu Syekh Sa’ad Al-Din Mas’ud Al-Haritsi yang wafat pada tahun 711 M, dan orang sezamannya Abu Al-Hasan Yusuf bin Muhammad Al-Maqdisi yang wafat pada tahun 719 M. Beliau menyebut penjelasannya dengan Kifayat Al-Mustaqni’ Al-Adillah Al-Muqta’.
Abu al-Hasan Ali bin Salman al-Mardawi al-Maqdisi mempunyai kitab besar tentang al-Muqni’.
Ia menyebutnya (Al-Insaf fi Ma'rifat al-Rajih min al-Khilaf) yang menyelidiki isu-isu perselisihan yang dikemukakan al-Muwafaq dalam al-Muqni’ tanpa memberikan preferensi. Al-Mardawi menjelaskan dalam al-Insaf pandangan yang benar tentang mazhab, pandangan yang terkenal, pandangan yang dipraktikkan, dan pandangan yang menang. Buku ini merupakan buku besar yang saat ini sedang dicetak di Kairo. Penulisnya telah meringkasnya dalam sebuah buku berharga yang ia sebut (Al-Tanqih al-Mashy’ fi Tahrir Ahkam al-Muqni’) yang saat ini sedang dicetak di Percetakan Salafi.
Kitab "Al-Muqni" sebelumnya dicetak di Percetakan Al-Manar pada tahun 1322, dengan anotasi dari beberapa ahli hukum terkemuka. Buku ini hadir dengan anotasinya dalam dua jilid.
Kemudian, pada tahun 1346, Percetakan Al-Manar menerbitkan tafsir agung karya keponakan sang penulis, beserta kitab Al-Mughni. Dari kedua buku tersebut, lahirlah dua belas jilid buku yang penuh dengan hukum-hukum agung dalam yurisprudensi Islam.
Beberapa tahun yang lalu, percetakan Salafi kita mencetak kitab (Al-Muqni’) atas biaya Yang Mulia Emir Syekh Ali bin Syekh Abdullah II, penguasa agung Qatar, dengan tafsir beranotasi yang disalin dari tulisan tangan ulama Syekh Sulaiman bin Syekh Abdullah bin Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, semoga Allah merahmati mereka. Kitab ini tidak diatribusikan kepada siapa pun, dan tampaknya beliaulah yang menyusunnya dan menyebutkannya secara khusus dari Al-Syarh Al-Kabir, Al-Mubdi’, dan Al-Insaf, serta memuat sedikit hal lainnya. Anotasi ini menghimpun hukum, riwayat, dan aspek-aspek yang akan menghindarkan para ahli hukum dari tulisan yang panjang. Kami menerbitkan setiap paragraf anotasi pada halaman yang sama dengan paragrafnya dari teks, dimulai dengan kata (perkataan beliau) dan diberi nomor dengan nomor yang sama dalam teks. Sang anotator, semoga Allah merahmatinya, menyelipkan beberapa ungkapan di antara baris-barisnya dan tidak menyebutkan teks di awal, karena merasa cukup dengan apa yang menjadi dasarnya. Ketika anotasi dipisahkan dari teks, perlu disebutkan apa yang mendasarinya. Saya mencantumkan mereknya di dalam anotasi, dimulai dengan kata-kata (atas perkataannya), dan kami tidak memberinya nomor, karena merasa cukup dengan urutannya.
| RF00249 | Perpustakaan Pusat (Lantai 2) | Tersedia | |
| RF00250 | Perpustakaan Pusat (Lantai 2) | Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - Missing | |
| RF00251 | Perpustakaan Pusat (Lantai 2) | Tersedia | |
| RF00252 | Perpustakaan Pusat (Lantai 2) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain